Diskusi Kebangsaan Bersama Muspika Seunagan Timur: Rawat Perdamaian Aceh dalam Bingkai NKRI Menuju Aceh Meusyuhu dan Bersyariah

Nagan Raya – Muspika Seunagan Timur bersama para Keuchik, Mukim, anggota Komite Peralihan Aceh (KPA), serta Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA) menggelar Diskusi Kebangsaan dalam rangka merawat perdamaian dan memperkuat persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Kamis (20/11/2025). Kegiatan berlangsung pukul 10.30–12.30 WIB di wilayah Kecamatan Seunagan Timur, Kabupaten Nagan Raya, dengan suasana yang tertib dan penuh keakraban.

Kegiatan ini dihadiri oleh Camat Seunagan Timur Said Mudhar, M.Pd, Kapolsek Seunagan Timur Ipda Mursal, S.I.P., S.Sos, Danramil 03/ST Letda Arh. Diski Rianto, para Keuchik, Mukim, tokoh masyarakat, serta unsur KPA dan JASA Kecamatan Seunagan Timur.

Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Aceh, lalu dilanjutkan penyampaian sambutan dari Camat Seunagan Timur. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan momen penting mempererat silaturahmi sesama anak bangsa serta meningkatkan kesadaran kebangsaan dalam memberikan pelayanan publik yang lebih baik.

Pemahaman Empat Pilar Kebangsaan

Kapolsek Seunagan Timur bertindak sebagai pemateri utama dan menyampaikan empat pilar kebangsaan, yakni:

1. Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa.

2. UUD 1945 sebagai konstitusi tertinggi yang mengatur jalannya pemerintahan.

3. NKRI sebagai bentuk negara yang utuh dan tidak terpecah.

4. Bhinneka Tunggal Ika yang menggambarkan keberagaman bangsa dalam satu kesatuan

Sementara itu, Plt. Danramil 03/ST menegaskan bahwa wawasan kebangsaan telah hidup dalam masyarakat sejak dahulu. Ia mengajak seluruh elemen untuk menjaga ketertiban, keamanan, serta memperkuat penerapan syariat Islam sebagai identitas Aceh yang bermartabat dan meusyuhu.

Komitmen Jaga Perdamaian di Seunagan Timur

Diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berjalan interaktif dan penuh kekeluargaan. seluruh peserta sepakat bahwa perdamaian Aceh adalah tanggung jawab bersama yang harus dijaga secara berkelanjutan.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan sesi foto, diiringi suasana penuh kehangatan antarpara tokoh dan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *